SEJARAH PERADABAN ISLAM “PERADABAN ARAB PRA ISLAM”
MAKALAH
SEJARAH PERADABAN ISLAM
“PERADABAN
ARAB PRA ISLAM”
Di ajukan untuk memenuhi salah satu tugas makalah Pada mata kuliah SPI
denganDosen Pengampu H. Elih
Malihatun, MAg

Di susun Oleh :
HERWANDI
M. PADIL ABDUL GINA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ( STAI )
DAARUSSALAAM
Alamat
: Jl. Pasar Ikan Cibaraja Selajambe Cisaat Sukabumi
PERADABAN ISLAM PRA ISLAM
A.
PENGERTIAN
DAN RUANG LINGKUP SEJARAH PERADABAN ISLAM
Peradaban Islam adalah terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah Al-Islamiyyah.Kata
dalam bahasa Arab ini sering kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan
kebudayaan Islam. Di Indonesia seringkali disinonimkan dua kata antara “
kebudayaan dan peradaban “. Namun dalam perkembangan ilmu Antropologi sekarang,
kedua istilah tersebut telah dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan
tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan peradaban lebih berkaitan
Manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis. Kebudayaan lebih
direflesasikan dalam seni, sastra, religi, dan moral. Sedangkan peradaban
terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Sampai tahun 1970-an, ruang lingkupnya mencakup 4 kawasan :
1.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Arab : Timur tengah dan Afrika utara, termasuk Spanyol
Islam.
2.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Persia : Irak dan Negara-negara Islam di Asia tenggara.
3.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Turki.
4.
Kawasan
pengaruh kebudayaan India Islam.
Akan tetapi, sekarang kawasan itu menjadi luas dengan
ditambahkannya Asia tenggara sebagai suatu kawasan baru.[1]
B.
BANGSA
ARAB SEBELUM ISLAM
Pada masa sebelum
islam yamg diajarkan disebar luaskan ke bangsa Arab oleh Rasulullah Saw, orang
arab sering kali terjali peperangan antar suku di antaranya dikenal dengan
perang Fujjar karena terjadi beberapa kali antar suku, yang pertama perang
antara suku Kinanah dan Hawazan, kemuadian Quraisy dan Hawazan serta Kinanah
dan Hawazan lagi. Dan peperangan ini terjadi 15 tahun sebelum Rasul
diutus. Kekaisaran Bizantium dan Kekaisaran Romawi Timur dengan ibu kota
Konstantinopel merupakan bekas Imperium Romawi dari masa klasik. Pada permulaan
abad ke-7, wilayah imperium ini telah meliputi Asia kecil, Siria, Mesir dan
sebagian daeah Itali serta sejumlah kecil wilayah di pesisir Afrika Utara juga
berada di bawah kekuasaannya.
Saingan berat
Bizantium dalam perebutan kekuasaan di Timur Tengan adalah persia. Ketika itu,
imperium ini berada di bawah kekuasaan dinasti Sasanid (sasaniyah). Ibu kota
persia adalah al-Madana’in, terletak sekitar dua puluh mil di sebalah tenggara
kota Baghdad yang sekarang. Wilayah kekuasaannya terbentang dari Irak dan
Mesopotamia hingga pedalaman timur Iran dewasa ini serta
Afganistan. Menjelang lahirnya Nabi Muhammad Saw, penguasaan Abisinia di
Yaman – Abraham, atau lebih populer dirujuk dalam literatur Islam sebagai
Abrahah – melakukan invasi ke Makkah, tetapi gagal menaklukkan kota tersebut
lantara epidemi cacar (hujan kerikil) yang menimpa bala tentaranya, Ekpedisi
ini -merujuk Al-quran dalam surat 105- pada prinsipnmya memiliki tujuan yang
secara sepenuhnya berada di dalam kerangka politik internasional ketika itu.
yaitu upaya Bizantyum untuk menyatukan suku-suku Arab di bawah pengaruhnya guna
menantang Persia. sementara para sejarawan muslim menambahkan tujuan lain
untuknya. Menurut mereka ekpedisi tersebut- terjadi kira-kira pada 552-
dimaksudkan untuk menghancurkan Ka’bah dalam rangka menjadikan gereja megah di
San’a, yang dibangun Abrahah, sebagai pusat ziarah pusat keagamaan di Arabia.
Dalam masyarakat
arab terdapat organisasi clan (kabilah) sebagai intinya dan anggota dari satu
clan merupakan geneologi (pertalian darah). Pemerintah di kalangan bangsa Arab
sebelum Islam, menurut para ahli sejarah dimulai oleh golongan Arab Bai'idah.
Pada periode pertama dikenal ada kerajaan Aad di daerah Ahkaf al Romel yang
terletak antara Oman dan Yaman, kaum Aad juga pernah mendirikan kerajaan antara
Makkah dan Yastrib. Kemudian juga dikenal kerajaan dari kaum Tsamud mendiami
daerah hijir dan wadi al-Kurro, antara Hijaz dan Syiria. Kemudian dikenal juga
kerajaan dari kaum Amaliqah di Arab Timur, Oman Hijaz mereka juga ke Mesir dan
Syiria. Pada periode Kedua yaitu pada masa Arab Aribah atau Bani Qhathan yang
terkenal dengan kerajaan Madiniyah, kerajaan Sabaiyah dan kerajaan Himyariah.[2]
C.
LETAK GEOGRAFIS
ARAB
Semenanjung Arab adalah semenanjung yang terletak di sebelah barat
daya Asia. Wilayahnya memiliki luas 1.745.900 kilometer persegi. Semenanjung
ini dinamakanjazirah karena tiga sisinya berbatasan dengan air, yakni di
sebelah timur berbatasan dengan teluk Oman dan teluk Persi, di sebelah selatan
berbatasan dengan Samudra Hindia dan teluk Aden, di sebelah barat berbatasan
dengan laut merah. Hanya di sebelah utara, jazirah ini berbatasan
dengan daratan atau padang pasir Irak dan Syiria. Secara geografis, daratan jazirah Arab
didominasi padang pasir yang luas, serta memiliki iklim yang panas dan kering.
Hampir lima per enam daerahnya terdiri dari padang pasir dan gunung batu. Luas
padang pasir ini diklasifikasikan Ahmad Amin sebagai berikut:
1. Sahara Langit, yakni yang memanjang 140 mil dari utara ke selatan
dan 180 mil dari timur ke barat. Sahara ini disebut juga sahara Nufud. Di
daerah ini, jarang sekali ditemukan lembah dan mata air. Angin disertai debu
telah menjadi ciri khas suasana di tempat ini. Hal itulah yang menyebabkan
daerah ini sulit dilalui.
2. Sahara Selatan, yakni yang
membentang dan menyambung Sahara Langit ke arah timur sampai selatan Persia.
Hampir seluruhnya merupakan dataran keras, tandus, dan pasir bergelombang.
Daerah ini juga disebut dengan daerah sepi (al-Rub’ al-Khali).
3. Sahara Harrat, yakni suatu daerah yang terdiri dari tanah liat
berbatu hitam. Gugusan batu-batu hitam itu menyebar di seluruh sahara ini.
Secara garis besar, jazirah Arab dibedakan menjadi dua,
yakni daerah pedalaman dan pesisir. Daerah pedalaman jarang sekali mendapatkan
hujan, namun sesekali hujan turun dengan lebatnya. Kesempatan demikian biasa
dimanfaatkan penduduk nomadik dengan mencari genangan air dan padang rumput
demi keberlangsungan hidup mereka. Sedangkan daerah pesisir, hujan turun dengan
teratur, sehingga para penduduk daerah tersebut relatif padat dan sudah
bertempat tinggal tetap. Oleh karena itu, di daerah pesisir ini, jauh sebelum
Islam lahir, sudah berkembang kota-kota dan kerajaan-kerajaan penting, seperti
kerajaan Himyar, Saba’, Hirah dan Ghassan.
D.
SOSIAL
DAN BUDAYA BANGSA ARAB
Masyarakat Arab terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu penduduk
kota (Hadhary) dan penduduk gurun (Badui). Penduduk kota bertempat tinggal
tetap. Mereka telah mengenal tata cara mengelola tanah pertanian dan telah
mengenal tata cara perdagangan. Bahkan hubungan perdagangan mereka telah sampai
ke luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa mereka telah memiliki peradaban cukup
tinggi. Sementara masyarakat Badui hidupnya berpindah-pindah dari satu
tempat ke tempat lainnya guna mencari air dan padang rumput untuk binatang
gembalaan mereka. Di antara kebiasaan mereka adalah mengendarai unta,
mengembala domba dan keledai, berburu serta menyerang musuh. Kebiasaan ini
menurut adat mereka adalah pekerjaan yang lebih pantas dilakukan oleh
laki-laki. Oleh karena itu, mereka belum mengenal pertanian dan perdagangan.
Karenanya, mereka hidup berpindah dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari
kehidupan, baik untuk diri dan keluarga mereka atau untuk binatang ternak
mereka. Dalam perjalanan pengembaraan itu, terkadang mereka menyerang musuh
atau menghadapi serangan musuh. Di sinilah terjadi kebiasaan berperang di
antara suku-suku yang ada di wilayah Arabia.
Ketika mereka diserang musuh maka suku yang bersekutu dengan mereka
biasanya ikut membantu dan rela mengorbankan apa saja untuk membantu kawan
sekutunya itu. Di sinilah dapat kita lihat adanya unsur kesetiakawanan yang ada
di antara mereka. Selain itu, manakala seorang anggota suku diserang oleh suku
lain maka seluruh anggota wajib membela anggotanya meskipun anggotanya itu
salah. Mereka tidak melihat kesalahan ada di pihak mana. Hal penting yang
mereka lakukan adalah membela sesama anggota suku. Itulah yang dapat kita lihat
dari sikap fanatisme dan patriotisme yang ada di dalam kehidupan masyarakat
Badui.
Tidak dapat dipungkiri bahwa kondisi geografis Arab sangat besar
pengaruhnya terhadap kejiwaan masyarakatnya. Arab sebagai wilayah tandus dan
gersang telah menyelamatkan masyarakatnya dari serangan musuh-musuh luar. Pada
sisi lainnya, kegersangan ini mendorong mereka menjadi pengembara-pengembara
dan pedagang daerah lain. Keluasan dan kebebasan kehidupan mereka di padang
pasir juga menimbulkan semangat kebebasan dan individualisme dalam pribadi
mereka. Kecintaan mereka terhadap kebebasan ini menyebabkan mereka tidak pernah
dijajah bangsa lain.Kondisi kehidupan Arab menjelang kelahiran Islam secara
umum dikenal dengan sebutan zaman jahiliyah. Hal ini dikarenakan kondisi sosial
politik dan keagamaan masyarakat Arab saat itu. Hal itu disebabkan karena dalam
waktu yang lama, masyarakat Arab tidak memiliki nabi, kitab suci, ideologi
agama dan tokoh besar yang membimbing mereka. Mereka tidak mempunyai sistem
pemerintahan yang ideal dan tidak mengindahkan nilai-nilai moral. Pada saat
itu, tingkat keberagamaan mereka tidak berbeda jauh dengan masyarakat primitif.[3]
Sesungguhnya sejak zaman jahiliyah, masyarakat Arab memiliki
berbagai sifat dan karakter yang positif, seperti sifat pemberani, ketahanan
fisik yang prima, daya ingat yang kuat, kesadaran akan harga diri dan martabat,
cinta kebebasan, setia terhadap suku dan pemimpin, pola kehidupan yang
sederhana, ramah tamah, mahir dalam bersyair dan sebagainya. Namun sifat-sifat
dan karakter yang baik tersebut seakan tidak ada artinya karena suatu kondisi
yang menyelimuti kehidupan mereka, yakni ketidakadilan, kejahatan, dan
keyakinan terhadap tahayul. Pada masa itu, kaum wanita menempati kedudukan
yang sangat rendah sepanjang sejarah umat manusia. Masyarakat Arab pra Islam
memandang wanita ibarat binatang piaraan bahkan lebih hina lagi. Karena para
wanita sama sekali tidak mendapatkan penghormatan sosial dan tidak memiliki
apapun. Kaum laki-laki dapat saja mengawini wanita sesuka hatinya dan
menceraikan mereka semaunya. Bahkan ada suku yang memiliki tradisi yang sangat
buruk, yaitu suka mengubur anak perempuan mereka hidup-hidup. Mereka merasa
terhina memiliki anak-anak perempuan. Muka mereka akan memerah bila mendengar
isteri mereka melahirkan anak perempuan. Perbuatan itu mereka lakukan karena
mereka merasa malu dan khawatir anak perempuannya akan membawa kemiskinan dan
kesengsaraan dan kehinaan.
Selain itu, sistem perbudakan juga merajalela. Budak diperlakukan
majikannya secara tidak manusiawi. Mereka tidak mendapatkan kebebasan untuk
hidup layaknya manusia merdeka. Bahkan para majikannya tidak jarang menyiksa
dan memperlakukan para budak seperti binatang dan barang dagangan, dijual atau
dibunu. Secara garis besar kehidupan sosial masyarakat Arab secara keseluruhan
dan masyarakat kota Mekkah secara khusus benar-benar berada dalam kehidupan
sosial yang tidak benar atau jahiliyah. Akhlak mereka sangat rendah, tidak
memiliki sifat-sifat perikemanusiaan dan sebagainya
Dalam situasi inilah agama Islam lahir di kota Mekkah dengan
diutusnya Muhammad saw. sebagai nabi dan rasul Allah. Secara singkat dapat
disimpulkan keaadaan sosial dan kebudayaan bangsa Arab sebelum islam
diantaranya:
1.
Orang-orang
Arab sebelum kedatangan Islam adalah orang-orang yang menyekutukan Allah
(musyrikin), yaitu mereka menyembah patung-patung dan menganggap patung-patung
itu suci.
2.
Kebiasaan
mereka ialah membunuh anak laki-laki mereka karena takut kemiskinan dan
kelaparan.
3.
Mereka
menguburkan anak-anak perempuan mereka hidup-hidup karena takut malu dan
celaan.
4.
Mereka
orang-orang yang suka berselisihan, yang suka bertengkar, lantaran sebab-sebab
kecil, sebab segolongan dari mereka memerangi akan segolongannya.
E.
KEPERCAYAAN BANGSA
ARAB
Sebelum kedatangan Islam di arab terdapat berbagai agama diantara
ada yang beragama Yahudi, kristen dimana mayoritas penganut agama Yahudi
tersebut pandai bercocok tanam dan membuat alat-alat dari besi seperti
perhiasan dan persenjataan.Penduduk Arab menganut agama yang bermacam-macam.
Paganisme, Yahudi, dan Kristen merupakan ragam agama orang Arab pra Islam.
Pagan adalah agama mayoritas mereka. Ratusan berhala dengan bermacam-macam
bentuk ada di sekitar Ka’bah. Setidaknya ada empat sebutan bagi berhala-berhala
itu: sanam, wathan, nusub, dan hubal. Sanam berbentuk manusia dibuat dari logam
atau kayu. Wathan juga dibuat dari batu. Nusub adalah batu karang tanpa suatu
bentuk tertentu. Hubal berbentuk manusia yang dibuat dari batu akik. Dialah
dewa orang Arab yang paling besar dan diletakkan dalam Ka’bah di Mekah. Orang-orang
dari semua penjuru jazirah datang berziarah ke tempat itu. Beberapa
kabilah melakukan cara-cara ibadahnya sendiri-sendiri. Ini membuktikan bahwa
paganisme sudah berumur ribuan tahun. Sejak berabad-abad penyembahan patung
berhala tetap tidak terusik, baik pada masa kehadiran permukiman Yahudi maupun
upaya-upaya kristenisasi yang muncul di Syiria dan Mesir.
Agama Yahudi dianut oleh para imigran yang bermukim di Yathrib dan
Yaman. Tidak banyak data sejarah tentang pemeluk dan kejadian penting agama ini
di JazirahArab, kecuali di Yaman. Dzū Nuwās merupakan penguasa Yaman yang
condong ke Yahudi. Dia tidak menyukai penyembahan berhala yang telah menimpa
bangsanya. Dia meminta penduduk Najran agar masuk agama Yahudi. sehingga kalau
mereka menolak, maka akan dibunuh. Namun yang terjadi justru menolak, maka
digalilah sebuah parit dan dipasang api di dalamnya. Mereka dimasukkan ke dalam
parit itu, serta dibunuh dengan pedang atau dilukai sampai cacat bagi yang
selamat dari api tersebut. Korban pembunuhan itu mencapai dua puluh ribu orang.
Tragedi berdarah dengan motif fanatisme agama ini diabadikan dalam al-Quran
dalam kisah “orang-orang yang membuat parit” (Ashab al-Ukhdud.
Sedangkan Agama Kristen di jazirah Arab dan sekitarnya
sebelum kedatangan Islam tidak ternodai oleh tragedi yang mengerikan semacam
itu. Yang tampak hanyalah pertikaian di antara sekte-sekte Kristen. Menurut
Muhammad ‘Abid al-Jabiri, al-Quran menggunakan istilah “Nasara” bukan
“al-Masihiyah” dan “al-Masihi” bagi pemeluk agama Kristen. Bagi pendeta Kristen
resmi (Katolik, Ortodoks, dan Evangelis) istilah “Nasara” adalah sekte sesat,
tetapi bagi ulama Islam mereka adalah “Hawariyun”. Para misionaris Kristen
menyebarkan doktrinnya dengan bahasa Yunani yang waktu itu madhab-madhab filsafat
dan aliran-aliran gnostik dan hermes menyerbu daerah itu. Inilah yang
menimbulkan pertentangan antara misionaris dan pemikir Yunani yang memunculkan
usaha-usaha mendamaikan antara filsafat Yunani yang bertumpu pada akal dan
doktrin Kristen yang bertumpu pada iman. Inilah yang melahirkan sekte-sekte
Kristen yang kemudian menyebar ke berbagai penjuru, termasuk jazirah Arab dan
sekitarnya. Sekte Arius menyebar di bagian selatan jazirah Arab,
yaitu dari Suria dan Palestina ke Irak dan Persia.
Salah satu corak beragama yang ada sebelum Islam datang selain tiga
agama di atas adalah Hanifiyah yaitu sekelompok orang yang mencari
agama Ibrahim yang murni yang tidak terkontaminasi oleh nafsu penyembahan
berhala-berhala, juga tidak menganut agama Yahudi ataupun Kristen, tetapi
mengakui keesaan Allah. Mereka berpandangan bahwa agama yang benar di sisi
Allah adalah Hanifiyah, sebagai aktualisasi dari millah Ibrahim.
Gerakan ini menyebar luas ke berbagai penjuru Jazirah Arab khususnya di tiga
wilayah Hijaz, yaitu Yathrib, Taif, dan Mekah.[4]
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Peradaban
Islam adalah terjemahan dari kata Arab Al-Hadharah Al-Islamiyyah.Kata
dalam bahasa Arab ini sering kita terjemahkan kedalam bahasa Indonesia dengan
kebudayaan Islam. Di Indonesia seringkali disinonimkan dua kata antara “
kebudayaan dan peradaban “. Namun dalam perkembangan ilmu Antropologi sekarang,
kedua istilah tersebut telah dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan
tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan peradaban lebih berkaitan
Manifestasi-manifestasi kemajuan mekanis dan teknologis. Kebudayaan lebih
direflesasikan dalam seni, sastra, religi, dan moral. Sedangkan peradaban
terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.
Sampai tahun 1970-an, ruang lingkupnya mencakup 4 kawasan :
1.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Arab : Timur tengah dan Afrika utara, termasuk Spanyol
Islam.
2.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Persia : Irak dan Negara-negara Islam di Asia tenggara.
3.
Kawasan
pengaruh kebudayaan Turki.
4.
Kawasan
pengaruh kebudayaan India Islam.
Akan tetapi, sekarang kawasan itu menjadi luas dengan
ditambahkannya Asia tenggara sebagai suatu kawasan baru.
B.
SARAN
Mempelajari Sejarah-sejarah Islam amatlah penting, terutama bagi
pelajar-pelajar agama islam dan pemimpin-pemimpin islam. Dengan mempelajari
Sejarah-sejarah Islam kita dapat mengetahui sebab kemajuan dan kemunduran
islam. Sebagai
umat islam, hendaknya kita mengetahui sejarah tersebut guna menumbuh kembangkan wawasan
generasi mendatang di dalam pengetahuan sejarah tersebut.
DAFTAR FUSTAKA
Al-Din, Burhan, Jazirat- Arab al-Islam, Beirut: t. p. 1989
Asy Syarkowi, Abdurrahman, Muhammad Sang
Pembebas, Yogyakarta: Mitra Pustaka 2003
R A A, Nicholson, A Literary History of The
Arabs, Cambridge : Cambridge University Perss 1997
Sa’id Romadhan al-Buthy, Muhammad, Sirah Nabawiyah, Jakarta:
Robbani Press cet 11 2006
[1] Syeikh Shafirrahman Al-Mubarakfuri, sejarah Emas dan Atlas Perjalanan Nabi Muhamad, Jaziyad visi Media, Jakarta, 2012 hlm 28-30
[2] Ali Mufrodi, Islam di kawasan Kebudayaan Arab, Jakrta : Logos 1997. Hal 3-4
[3] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 54
[4] Dedi Supriyadi, Sejarah Peradaban Islam,Pustaka Setia, Bandung, 2008 hlm 47
Komentar
Posting Komentar